Pembentukan Karakter

PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI KEARIFAN LOKAL

Penulis            : Drs. Suparman, M. Pd.
Disajikan di    : Temu Ilmiah Nasional Guru (TING) IV, Jakarta, 24 November 2012
Tautan             : https://utsurabaya.files.wordpress.com/2013/07/suparman-ting4.pdf

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Peribahasa ini menggambarkan pengaruh perilaku guru terhadap perilaku muridnya. Pendidikan di tingkat prasekolah dan tingkat dasar, perilaku guru merupakan model bagi murid dalam berperilaku baik di dalam maupun di luar kelas. Ucapan dan perintah guru sangat dipatuhi oleh muridmuridnya. Bahkan sering terjadi bahwa ucapan dan perintah guru yang didengar anak di sekolah lebih dipatuhi oleh anak daripada ucapan dan perintah orang tuanya.
Perilaku guru di masyarakat dijadikan ukuran keterlaksanaan budaya bagi anggota masyarakatnya..Kelestarian budaya local masyarakat menjadi tanggung jawab anggota masyarakatnya. Sedang guru menjadi barometernya. Guru yang melaksanakan tugas di luar daerah kelahirannya, dituntut untuk mengenal budaya masyarakat di mana ia melaksanakan tugasnya. Untuk dapat melaksanakan dan melestarikan budaya masyarakat barunya, guru harus mengenalnya dengan baik. Pembentukan karakter anak didik merupakan tugas bersama dari orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Ketiga pihak tersebut secara bersama-sama atau simultan melaksanakan tugas membentuk karakter anak didik. Guru merupakan pihak dari pemerintah yang bertugas membentuk karakter anak didik, terutama selama proses pendidikan di sekolah. Kemudian orang tua sekaligus sebagai anggota masyarakat memiliki waktu yang lebih banyak dalam membina karakter anaknya.
Keberhasilan pembentukan karakter anak didik di sekolah, apabila murid dan guru berasal dari budaya lokal yang sama. Guru yang mengenal lebih dalam budaya lokal anak didiknya akan lebih lancar dan lebih berhasil dalam pemebentukan karakter anak didiknya dibandingkan dengan guru yang kurang mengenal atau kurang memahami budaya lokal anak didiknya. Merupakan tugas dan tantangan besar bagi guru yang ditugaskan di masyarakat yang budayanya berbeda dengan budaya guru yang bersangkutan.

Iklan

Pendidikan Multikultural

PENGEMBANGAN WAWASAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BAGI GURU

Penulis            : Drs. Suparman, M. Pd.
Disajikan di    : Temu Ilmiah Nasional Guru (TING) IV, Jakarta, 25 November 2011
Tautan             : https://utsurabaya.files.wordpress.com/2013/07/suparman-ting-iii.pdf

Kemerdekaan Negara Republik Indonesia merupakan jembatan emas bangsa untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa; serta melaksanakan ketertiban dunia. Negara Republik Indonesia terdiri dari keanekaragaman suku, agama, ras, dan budaya. Keanekaragaman tersebut dilindungi oleh negara.
Realitas bangsa Indonesia yang beaneka ragam suku, agama, ras, dan budaya tersebut, maka sangat perlu adanya langkah-langkah pengembangan wawasan pendidikan multikultural bagi guru. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah : 1) memahami berbagai kultur melalui literatur yang ada, 2) melibatkan guru-guru dalam diskusi/seminar lintas kultur, 3) mengunjungi lokasi atau tempat masyarakat pemilik budaya, 4) bersosialisasi dengan masyarakat pemilik budaya tertentu. Melalui langkah-langkah tersebut guru akan memperoleh pemahaman keanekaragaman budaya masyarakat Indonesia. Di samping itu melalui langkah-langkah tersebut guru akan dapat mengembangkan wawasannya mengenai pendidikan multikultural. Dengan demikian para guru akan memiliki keluasan wawasan mengenai pendidkan multikultural, dan sekaligus menjadi pelaku pendidikan multikuiltural yang efektif. Fungsi guru sebagai fasilitator, organisator, motivator pendidikan akan berfungsi dengan baik.

Desentralisasi pendidikan dalam konteks otonomi daerah

Filosofi, legalisasi, dan implementasi desentralisasi pendidikan dalam konteks otonomi daerah
Mohammad Imam Farisi

Reformasi terbesar dalam sistem pendidikan nasional adalah perubahan dalam paradigma pendidikan, yaitu dari paradigma “sentralisme” ke paradigma “desentralisme”. Reformasi sistem pendidikan nasional ini, oleh kebanyakan orang lebih dipahami dan dikaitkan dari sisi “politiklegalistik”. Karenanya, dalam berbagai kajian, seminar, dsb. reformasi sistem pendidikan nasional ini lebih sering dijelaskan dalam konteks “kebijakan otonomi daerah”, yang jelas-jelas sangat politik-legalistik, mengacu pada UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang secara substantif memuat konsep otonomi daerah. Salah satunya adalah otonomi pendidikan dalam bentuk desentrasisasi pendidikan. Padahal, paradigma yang sesungguhnya melatarbelakangi desentralisasi pendidikan lebih bersifat “substantif”, yakni sebagai konsekuensi dari terjadinya reformasi paradigma pendidikan.

Link: http://mfarisiblog.files.wordpress.com/2013/05/04-stai-alkhairat.pdf

Panduan Kultur Unit

Pengembangan Panduan Kultur Unit
Tri Dyah Prastiti & Mohammad Imam Farisi

So far, Regional Center (RC) Surabaya has not had a basic character-based guide yet that can be used by employees, and tutors, to implement their duties and functions, so that emerge the problems which were related to rule, norm, and ethic. This research was aimed at developing the Unit’s Culture Guide through Research and Development. Results of the development consisted of two Unit Culture Guides for employees, and tutors. According to experts and users validator the Guide was “compatible” for RC-Surabaya. Overall, they also assessed that content, language, and structure of the Guide is “good” (79,17%), and “very good” (18,75%). The core values which were considered as a priority for employees were: responsibility, intelligence, honesty, cooperativeness, taft, care, clean, and healthy; for tutors were: honesty, responsibility, intelligence, care, taft, cooperativeness, clean, and healthy

Link: http://mfarisiblog.files.wordpress.com/2013/05/14a-kultur-unit.pdf

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.896 pengikut lainnya