Jurnal


PENGEMBANGAN ASESMEN DIRI SISWA (STUDENT SELF-ASSESSMENT SEBAGAI MODEL PENILAIAN DAN PENGEMBANGAN KARAKTER
Mohammad Imam Farisi

Revitalisasi pendidikan karakter “tidak cukup” hanya mengintegrasikan nilai-nilai karakter di dalam pembelajaran dan/atau kurikulum, tetapi juga harus terintegrasi di dalam penilaian. Penelitian ini meninjau dan mengevaluasi hasil-hasil penelitian empirik tentang landasan teori pengembangan model asesmen diri siswa (ADS); efektivitas ADS dalam pengembangan karakter siswa, dan faktor-faktor pendukungnya; serta respon guru dan siswa terhadap model ADS dalam mengembangkan karakter siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kajian literatur secara kritis terhadap laporan ilmiah primer atau aseli sebagai sumber data, selanjutnya dianalisis dengan teknik “analisis anotasi bibliografis”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asesmen model ADS dalam pengembangan karakter dilandasi teori kognitif dan konstruktivisme (belajar dan motivasi); metakognisi; dan teori efikasi-diri. Model ADS efektif, valid, reliabel, dan meaningful sebagai instrumen asesmen dan pengembangan karakter di berbagai konteks pendidikan. Model ADS juga mengandung ‘bias subjektivitas’ karena faktor: kecenderungan sikap “overestimate” atau “underestimate” siswa; pemahaman dan latihan yang kurang memadai; dan kebiasaan dalam penggunaan model tes-tes standar/konvensional. Bias dapat diminimalisasi melalui intensifikasi latihan-praktik, pemberian pemahaman luas atas kriteria; internalisasi tujuan; kejelasan kriteria; dan kesungguhan siswa. Respon guru terhadap model ADS beragam dan ambigu, terkait dengan persoalan hubungan simbiosis antara asesmen dan pembelajaran. Respon siswa terhadap model ADS juga “positif”, dapat memperbaiki arah kerja; dipercaya meningkatkan peringkat, kualitas kerja, motivasi, dan belajar.

Kata kunci: asesmen-diri siswa, model asesmen, pengembangan karakter

____________________________________________

MEMBANGUN MASYARAKAT HARMONIS BERBASIS KEARIFAN LOKAL: DARI KESERAGAMAN MENUJU KEBERAGAMAN
Pardamean Daulay

Pembangunan pada dasarnya merupakan proses upaya terencana yang ditujukan bagi perbaikan dan kemaslahatan masyarakat secara berkeadilan. Hal itu tentunya mutlak memerlukan prasyarat keterbukaan dan kemauan politik dengan mengakomodasi pendekatan sosial budaya. Namun, dalam prakteknya justru menjadi problematis ketika pembangunan yang ditempuh pemerintah Orde Baru mengabaikan pendekatan sosial budaya dan partisipasi masyarakat lokal. Kekuasaan Orde Baru tidak saja menjalankan kebijakan sentralisasi dan membentuk budaya nasional (national culture), tetapi juga menenggelamkan kearipan lokal yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat dengan memaksakan keseragaman atas nama persatuan dan kesatuan. Akibatnya, bukan saja program dan tujuan yang tidak tercapai, tetapi malah banyak menimbulkan konflik SARA yang berkepanjangan dan hingga saat ini eksesnya masih terasa. Sebenarnya penerapan Otonomi Daerah di satu sisi dimaknai sebagai upaya membangunkan kembali kearifan lokal (lokal wishdom) yang selama ini hilang dari masyarakat Indonesia. Hanya saja, tumbuhnya spirit lokalitas ini dihadapkan dengan sebuah tantangan besar dengan semakin derasnya arus perubahan dan kuatnya dampak globalisasi yang mendorong intensifikasi hubungan sosial global yang menghubungkan komunitas lokal sehingga peristiwa yang terjadi di kawasan yang jauh dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di suatu tempat yang jauh. Tidaklah mengherankan dalam praktek otonomi daerah terlihat adanya keinginan setiap daerah untuk membangun dirinya sendiri. Tulisan ini mencoba memberikan perspektif lain mengenai pembangunan masyarakat yang harmonis dalam era otonomi daerah yang berwawasan lokal (lokal views) dengan mencoba memupuk kembali semangat multikulturalisme di tengah masyarakat Indonesia.

Kata Kunci : masyarakat harmonis, kearipan lokal, pendidikan multikulturalisme
______________________________________________________________
KEARIFAN LOKAL DALAM SASTRA LISAN SEBAGAI MATERI PEMBELAJARAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR IV
Barokah Widuroyekti

Peran teknologi informasi dan komunikasi pada era digital saat ini tidak dapat dipungkiri telah menggeser peran orang tua dalam mendidik putra-putrinya, khususnya dalam hal pembentukan karakter. Kebiasaan orang tua zaman dahulu mendongengkan cerita rakyat menjelang tidur anak, diakui atau tidak telah semakin ditinggalkan. Sementara instrumen canggih yang bernama internet begitu banyak menawarkan berbagai informasi, pengetahuan, dan budaya tanpa adanya filter. Internet dan televisi terposisikan sebagai guru, namun tanpa memiliki rasio dan rasa. Anak bebas memilih yang baik atau pun yang buruk tanpa pujian, dorongan, atau pun ancaman dan hukuman. Kondisi ini patut diduga menjadi faktor yang berpengaruh terhadap lunturnya standar moral yang berakar pada nilai-nilai lokal. Dalam kondisi demikian, sekolah diharapkan menjadi tempat menggantungkan harapan untuk membentuk karakter anak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa. Kearifan lokal yang dimiliki oleh berbagai kelompok masyarakat dapat digali kembali melalui cerita rakyat sebagai materi pembelajaran di sekolah. Sebagai bentuk sastra lisan, cerita rakyat memuat pesan-pesan moral yang baik, yang dapat menjadi perantara untuk memahami nilai-nilai kearifan lokal kelompok masyarakat tertentu. Pentingnya peran guru adalah mencelupkan anak dalam ceritacerita tradisional, sebagai penutur cerita, dan memilih materi cerita sesuai dengan kriteria, yang mencakup: (a) sistem tanda, (b) unsur intrinsik, dan (c) pesan. Tidak kalah penting dari itu adalah peran guru dalam menanamkan nilai-nilai kearifan lokal melalui keteladanan dalam kehidupan nyata.

Kata-kata kunci: kearifan lokal, cerita rakyat, materi pembelajaran karakter
______________________________________________________________
PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI TARI DHUNGKREK DI KABUPATEN MADIUN
Mamik Sumarmi

Peran pendidikan sangat penting untuk mendukung pembangunan agar menghasilkan insan berkualitas. UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 yang menyebutkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta perubahan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh sebab itu pendidikan di setiap jenjang sekolah perlu diselenggarakan secara sistematis agar terbentuk karakter peserta didik yang mampu bersaing, beretika, bermoral, santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui peran guru dalam pembentukan karakter anak melalui tari dongkrek. Dungrek diartikan dongane kawula/rakyat enggalo karaharjan. Tari ini terdiri dari 2 buah instrumen yaitu bedug dan korek. Bila dibunyikan, bunyi bedug terdengar dhung dan bunyi korek terdengar krek, sehingga kalau dibunyikan bergiliran dan terus menerus terdengar bunyi dhungkrek-dhung-krek. Dari bunyi inilah menjadi nama dhungkrek yang kemudian menjadi kesenian rakyat Mejayan Kabupaten Madiun. Penarinya memakai topeng yang terdiri dari 2 buah topeng raksasa, 2 – 3 buah topeng wanita dan 1 buah topeng orang tua. Raksasa menggambarkan angkara murka, wanita cantik menggambarkan kebajikan, sedang orang tua bawa teken/tongkat melambangkan orang yang bijaksana. Tari dongkrek mengalami kemajuan sehingga terjadi modifikasi baik tariannya maupun topengnya, bahkan sering dilombakan antar sekolah tingkat SD sampai dengan SLTA. Beberapa karakter Tari Dhungkrek mengingatkan anak-anak agar selalu mencontoh karakter yang baik dan menjauhi karakter jahat yang telah dibina melalui kegiatan ekstra kurikuler di sekolah.

Kata kuci: karakter, tari dongkrek
______________________________________________________________
PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI NILAINILAI BUDAYA REOG DI KABUPATEN MADIUN
Abdul Malik

Karakter merupakan nilai perilaku seseorang manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungannya dan kebangsaan yang ada dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan atas agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Dasar pembentukan karakter adalah nilai-nilai baik (energi positif) atau nilai buruk ( energi negatif). Karakter manusia bersifat tarik menarik antara nilai-nilai kebaikan dan nilai-nilai keburukan Nilai yang baik yang bersumber pada keyakinan terhadap Tuhan Sang Pencipta, sedangkan nilai yang buruk nilai yag bersumber pada ajaran anti terhadap adanya Tuhan. Local Wisdom merupakan nilai lokal yang mempunyai nilai tinggi, baik nilai yang berasal dari leluhur yang diwariskan oleh ajaran-ajaran dan nilai budaya nenek moyang. Kearifan lokal (Local Wisdom) mempunyai nilai luhur, tinggi, bahkan internasional. Di Jawa Timur sudah banyak dikenal kesenian Reog Ponorogo yang berasal dari daerah Ponorogo. Reog adalah salah satu kesenian yang lahir dari kerajaan Wengker di daerah Ponorogo Jawa Timur, Reog merupakan kesenian rakyat yang lahir dan berkembang dari budaya asli rakyat atau masyarakat Ponorogo. Di Kabupaten Ponorogo seluruh warga didik, peserta didik, dan masyarakat wajib untuk mendapat pelajaran nilai-nilai Reog sebagai muatan local dan dalam setiap kurikulum di masing unit sekolah baik negeri maupun swasta. Sehingga budaya Reog menjadi pembentuk karakter anak didik di sekolah-sekolah dan warga yang bertempat tinggal di Wilayah Ponorogo. Dalam setiap aspek kehidupan kesenian reog baik di daerah asal, nasional, dan internasional nilai budaya yang dikandung dari kesenian Reog antara lain adalah, kejujuran, keberanian, ke-kesatriaan, rasa percaya diri, estetika, rasa persaudaraan yang tinggi, sopan santun, dan kasih sayang antar sesama.

Kata kunci : Karakater, Reog, Local Wisdom.
______________________________________________________________
BUKU TEKS SEBAGAI PSYCHOLOGICAL TOOL PROSES ENKULTURASI DAN PELESTARIAN LOKAL
Mohammad Imam Farisi

Keberagaman etnik dan kultural merupakan khasanah kearifan lokal merupakan khasanah sosial-kultural bangsa yang perlu selalu dilestarikan dan dikembangkan. Buku teks merupakan medium efektif untuk menyampaikan pesan-pesan budaya dan pelestarian kearifan lokal. Makalah ini mengkaji fungsi buku teks sebagai alat psikologis (psychological tool) yang diciptakan oleh masyarakat dan budayanya. Dalam teori konstruktivisme sosio-kultural, buku teks—seperti halnya teks kompleks, novel, atau literatur—lazim digunakan di dalam hubungan-hubungan dialektis antar-individu. Buku teks merupakan alat simbolik kompleks (super tools) yang mampu menyajikan dan mentransformasikan pesan-pesan budaya dan kearifan lokal melalui artifak-artifak budaya simbolik yang lebih sederhana (simple tools) seperti tanda, simbol, teks, rumus, bahasa, dan alat-alat grafik-simbolik lainnya. Tinjauan atas hasil-hasil penilaian BSNP dan penelitian empirik, menunjukkan bahwa buku-buku teks dinilai layak sebagai buku acuan wajib di sekolah. Namun belum sepenuhnya menjadi psychological tool dalam proses enkulturasi dan medium bagi penyampaian pesan-pesan kearifan lokal. Buku teks masih sebatas sebagai “medium informasi”, dan belum mampu mentransformasikan pesan-pesan budaya dan kearifan lokal secara “substantif”.

Kata kunci: buku teks, alat psikologis, enkulturasi, kearifan lokal
______________________________________________________________
DAMPAK GLOBALISASI PENDIDIKAN TERHADAP PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL
Mohammad Harijanto

Suatu problematika muncul ”bagaimana dampak globalisasi pendidikan terhadap pelestarian kearifan lokal ?”. Guru adalah manusia yang pada hakikatnya manusia disebut sebagai homo educandus yaitu manusia harus dan dapat mendidik. Pandangan Konvergensi dalam proses perkembangan anak, faktor bawaan dan faktor lingkungan memberikan kontribusi yang sepadan, karena mengakui akan kodrat manusia yang memiliki potensi sejak lahir, namun potensi akan berkembang menjadi baik manakala mendapat sentuhan pengaruh lingkungan. Sejak perintisan kemerdekaan bangsa Indonesia pendidikan gobal merupakan upaya sistematis untuk membentuk wawasan dan perspektif peserta didik, karena melalui pendidikan global peserta didik dibekali materi yang bersifat utuh dan menyeluruh yang berkaitan dengan masalah global. Kearifan lokal pada dasarnya merupakan landasan bagi pembentukan jati diri bangsa secara nasional. Untuk menumbuhkembangkan agar ikut berpartisipasi dalam pelestarian kearifan lokal diperlukan: motivasi untuk menjaga, mempertahankan dan mewariskan budaya yang diwariskan generasi sebelumnya; meningkatkan pengetahuan dan kecintaan terhadap nilai-nilai sejarah kepribadian bangsa dari masa ke masa melalui pewarisan khasanah budaya dan nilai-nilai budaya secara nyata yang dapat dilihat, dikenang dan dihayati; terwujudnya keragaman lingkungan budaya; dan motivasi simbolis yang meyakini bahwa budaya lokal adalah manifestasi dari jatidiri suatu kelompok atau masyarakat sehingga dapat menumbuhkembangkan rasa kebanggaan, harga diri dan percaya diri yang kuat. Selain itu perlu memperhatikan kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan hambatannya.

Kata Kunci: Dampak Globalisasi Pendidikan, Pelestarian, Kearifan Lokal
______________________________________________________________
PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI KEARIFAN LOKAL
Suparman

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Peribahasa ini menggambarkan pengaruh perilaku guru terhadap perilaku muridnya. Pendidikan di tingkat prasekolah dan tingkat dasar, perilaku guru merupakan model bagi murid dalam berperilaku baik di dalam maupun di luar kelas. Ucapan dan perintah guru sangat dipatuhi oleh murid-muridnya. Bahkan sering terjadi bahwa ucapan dan perintah guru yang didengar anak di sekolah lebih dipatuhi oleh anak daripada ucapan dan perintah orang tuanya. Perilaku guru di masyarakat dijadikan ukuran keterlaksanaan budaya bagi anggota masyarakatnya..Kelestarian budaya local masyarakat menjadi tanggung jawab anggota masyarakatnya. Sedang guru menjadi barometernya. Guru yang melaksanakan tugas di luar daerah kelahirannya, dituntut untuk mengenal budaya masyarakat di mana ia melaksanakan tugasnya. Untuk dapat melaksanakan dan melestarikan budaya masyarakat barunya, guru harus mengenalnya dengan baik. Pembentukan karakter anak didik merupakan tugas bersama dari orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Ketiga pihak tersebut secara bersama-sama atau simultan melaksanakan tugas membentuk karakter anak didik. Guru merupakan pihak dari pemerintah yang bertugas membentuk karakter anak didik, terutama selama proses pendidikan di sekolah. Kemudian orang tua sekaligus sebagai anggota masyarakat memiliki waktu yang lebih banyak dalam membina karakter anaknya. Keberhasilan pembentukan karakter anak didik di sekolah, apabila murid dan guru berasal dari budaya lokal yang sama. Guru yang mengenal lebih dalam budaya lokal anak didiknya akan lebih lancar dan lebih berhasil dalam pemebentukan karakter anak didiknya dibandingkan dengan guru yang kurang mengenal atau kurang memahami budaya lokal anak didiknya. Merupakan tugas dan tantangan besar bagi guru yang ditugaskan di masyarakat yang budayanya berbeda dengan budaya guru yang bersangkutan.

Kata-kata kunci : Guru, karakter, budaya lokal
______________________________________________________________
MENUMBUHKAN KEARIFAN LOKAL PADA ANAK USIA DINI MELALUI PENDIDIKAN NILAI
Titik Setyowati

Tujuan yang ingin dicapai dalam sajian ini adalah: (1) mendeskripsikan tentang kearifan lokal pada anak usia dini; (2) mendeskripsikan tentang pendidikan nilai pada pendidikan anak usia dini; (3) mendeskripsikan upaya menumbuhkan kearifan lokal pada anak usia dini melalui pendidikan nilai. Pembahasan ini berkaitan dengan: (1) kearifan lokal pada anak usia dini adalah nilai-nilai sikap yang mendasari perilaku anak; (2) pendidikan nilai adalan nilai-nilai yang secara kurikuler terintegrasi dalam bidang pengembangan moral-agama, sosial – emosional, bahasa dan seni; (3) pengembangan moral-agama: keteladanan, pembiasaan, nasihat, perhatian, hukuman jika tidak ada cara yang lain; pengembangan sosial-emosional: rasa tanggung jawab terhadap diri dan orang lain: menyelesaikan dan mengerjakan tugas pilihannya sendiri tanpa bantuan orang dewasa, menerima tanggung jawab pribadi dengan baik, menghormati dan merawat lingkungan dan peralatan di dalam kelas, mengikuti aktivitas rutin dalam kelas, mematuhi peraturan di dalam kelas, bermain dan dengan baik bersama teman, berbagi dan menghormati hak orang lain; pengembangan bahasa dan seni: Melalui metode bercerita, bercaka-cakap dan tanya jawab, pemberian tugas, kegiatan sosiodrama, dan bermain peran dalam pembelajaran di Taman Kanak-kanak. Berdasarkan pembahasan ini maka dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal dapat ditumbuhkan dalam diri anak, sejak usia dini melalui pendidikan nilai yang tercermin dan terintegrasi pada bidang pengembangan moral-agama, sosial-emosional, bahasa dan seni yang terdapat dalam pendidikan formal.

Kata Kunci: Kearifan Lokal, Anak Usia Dini, Pendidikan Nilai.
______________________________________________________________
PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MADANI MELALUI PEMBERDAYAAN KEARIFAN LOKAL BAHASA MADURA: Upaya Membangun Kekuatan
Sulistiyono

Krisis kepribadian yang melanda negeri kita berada diambang kritis. Laku perbuatan yang kurang santun ditunjukkan dikalangan anak muda. Diperparah lagi semangat keadaban luntur terkikis oleh kondisi carut marutnya kebudayaan. Bangsa kita yang dikenal memiliki peradaban yang tinggi dengan adat ketimurannya, kini tinggal kenangan sejarah. Artinya, masih patutkah mengatakan kita adalah bangsa yang berbudaya tinggi, beradab, dan santun? Hal tersebut, yang membuat segenap komponen bangsa merasa resah. Karena itu, dibuatlah kebijakan memasukkan pendidikan karakter ke dalam lembaga formal. Cara tersebut tidak salah, tetapi keandalannya kurang memadai terlebih apabila pendidikan karakter hanya menjadi ajang pencekokan nilai. Sebab, secara primordial kepribadian tidak cukup dibentuk melalui pengetahuan, tetapi lebih merupakan internalisasi dari pengalaman kehidupan yang dibentuk oleh berbagai kultur. Termasuk bahasa sebagai bagian subkultur. Mengingat ada hubungan interdependensi antara kultur, bahasa, dan penggunanya. Bukankah ada pernyataan bahwa bahasa menunjukkan bangsa; bahasa menunjukkan kepribadian; struktur bahasa seseorang menentukan cara berpikir dan berprilakunya? Pemberdayaan bahasa Madura melalui membangun lagi rasa memiliki dan bangga sangat dibutuhkan. Sebab, dalam bahasa Madura sarat akan sopan santun, karakter, dan pesan moral. Semua nilai tersebut tercermin dalam undo usuknya: bahasa bawah, tengah, dan tinggi. Bermacam bentuk dalam pemberdayaan bahasa Madura. Namun, apa pun bentuknya pemberdayaan tersebut, yang terpenting diarahkan agar pengguna merasakan bahwa itu memang bermanfaat dan dibutuhkan. Sebab, tanpa merasakan adanya manfaat, akan sulit untuk menjadi kebutuhan.

Kata kunci: Kepribadian madani, kearifan lokal, kekuatan sentripetal
______________________________________________________________
MENGGUGAH KESADARAN GURU DALAM PELESTERIAN KEARIFAN LOKAL PADA ERA GLOBALISASI
Wuwuh Asrining Surasmi

Pendidikan nasional pada saat ini memikul peran multidimensional. Berbeda dengan peran pendidikan pada negara-negara maju, yang pada dasarnya terbatas pada transfer ilmu pengetahuan, peranan pendidikan nasional di Indonesia memikul beban lebih berat. Pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yakni pembentukan karakter dan watak bangsa (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial, dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab.Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa pendidikan karakter berbasis kearifan lokal merupakan upaya serius yang harus melibatkan semua pihak baik keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Oleh karena itu, perlu menyambung kembali hubungan (educational network) yang mulai terputus tersebut. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal tersebut, tidak akan berhasil apabila antarlingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.
Kata Kunci : kesadaran guru, kearifan lokal, globalisasi
______________________________________________________________

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.894 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: