Membangun Masyarakat Harmonis Berbasis Kearifan Lokal: Dari Keseragaman Menuju Keberagaman


Penulis            : Pardamean Daulay
Disajikan di    : Temu Ilmiah Nasional Guru (TING) IV, Jakarta, 24 November 2012
Tautan             : https://utsurabaya.files.wordpress.com/2013/01/dame.pdf

Abstrak: Pembangunan pada dasarnya merupakan proses upaya terencana yang ditujukan bagi perbaikan dan kemaslahatan masyarakat secara berkeadilan. Hal itu tentunya mutlak memerlukan prasyarat keterbukaan dan kemauan politik dengan mengakomodasi pendekatan sosial budaya. Namun, dalam prakteknya justru menjadi problematis ketika pembangunan yang ditempuh pemerintah Orde Baru mengabaikan pendekatan sosial budaya dan partisipasi masyarakat lokal. Kekuasaan Orde Baru tidak saja menjalankan kebijakan sentralisasi dan membentuk budaya nasional (national culture), tetapi juga menenggelamkan kearipan lokal yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat dengan memaksakan keseragaman atas nama persatuan dan kesatuan. Akibatnya, bukan saja program dan tujuan yang tidak tercapai, tetapi malah banyak menimbulkan konflik SARA yang berkepanjangan dan hingga saat ini eksesnya masih terasa. Sebenarnya penerapan Otonomi Daerah di satu sisi dimaknai sebagai upaya membangunkan kembali kearifan lokal (lokal wishdom) yang selama ini hilang dari masyarakat Indonesia. Hanya saja, tumbuhnya spirit lokalitas ini dihadapkan dengan sebuah tantangan besar dengan semakin derasnya arus perubahan dan kuatnya dampak globalisasi yang mendorong intensifikasi hubungan sosial global yang menghubungkan komunitas lokal sehingga peristiwa yang terjadi di kawasan yang jauh dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di suatu tempat yang jauh. Tidaklah mengherankan dalam praktek otonomi daerah terlihat adanya keinginan setiap daerah untuk membangun dirinya sendiri. Tulisan ini mencoba memberikan perspektif lain mengenai pembangunan masyarakat yang harmonis dalam era otonomi daerah yang berwawasan lokal (lokal views) dengan mencoba memupuk kembali semangat multikulturalisme di tengah masyarakat Indonesia.

Kata Kunci : masyarakat harmonis, kearipan lokal, pendidikan multikulturalisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.894 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: